what i think...


Blog For Free!


Archives
Home
2004 September
2004 August
2004 July

My Links
Culture Jammer Headquarters
Beast Magazine
Favourite Image Bank
Komunitas Fotografer Indonesia
Studio Driya Media Bandung
Enda's Weblog
Weblog Pemilu 2004
Radical Communication
Kompas Printed Version
Detik News Website
Mass Destruction Weapon
Design Business & Ethics Series
Digital Democracy
Youth Anti Drug
My Other Blog

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog


Site Web

powered by FreeFind



Masihkah Kita Butuh Keteladanan?
07.15.04 (2:48 pm)   [edit]

Tajuk rencana Kompas hari Rabu, tanggal 15 Juli 2004, mengenai moral bangsa yang sudah sedemikian terpuruknya, sehingga mulai membutuhkan keteladanan, agaknya menyiratkan suatu 'keputus-asaan'.


Penulis sendiri tidak begitu percaya bahwa setelah zaman Nabi-nabi diturunkan ke Bumi, akan ada lagi suatu masa dimana kita perlu meneladani seseorang atau suatu kaum demi perbaikan moral. Bicara keteladanan, sama halnya dengan bicara pendidikan, bagaimana mengajarkan kepada orang yang tidak tahu agar menjadi tahu. Tetapi persoalannya, dalam dunia orang dewasa, tidak ada lagi bahasa diajarkan.


lanjut...

 
New Cool Link Added!
07.14.04 (2:48 pm)   [edit]
I've just added some cool links. Specially the Nazi Poster Series. He was very good using media in his campaign!
 
Let's kick racism out of our head...
07.14.04 (1:39 pm)   [edit]
A white woman, about 50 years old, was seated next to a black man. Obviously disturbed by this, she called the air Hostess.
"Madam, what is the matter," the hostess asked.
"You obviously do not see it then?" she responded. "You placed me next to a black man. I do not agree to sit next to someone from such a repugnant group. Give me an alternative seat."
"Be calm please," the hostess replied.
"Almost all the places on this flight are taken. I will go to see if another place is available."

The Hostess went away and then came back a few minutes later. "Madam, just as I thought, there are no other available seats in the economy class. I spoke to the captain and he informed me that there is also no seat in the business class. All the same, we still have one place in the first class."

Before the woman could say anything, the hostess continued. "It is not usual for our company to permit someone from the economy class to sit in the first class. However, given the circumstances, the captain feels that it would be scandalous to make someone sit next to someone sooooo disgusting".

She turned to the black guy, and said, "Therefore, Sir, if you would like to, please collect your hand luggage, a seat awaits you in first class."

At that moment, the other passengers who were shocked by what they had just witnessed stood up and applauded.

So, let's kick racism out of our head...
 
A True Friend is...
07.14.04 (1:21 pm)   [edit]
There's some mighty fine advice in these words, even if you're not superstitious. This Lotus Totus has been sent to you for good luck from the Anthony Robbins organization. It has been sent around the world ten times so far. You will receive good luck within four days of relaying this Lotus Totus.

The Lotus Totus must leave your hands in 6 MINUTES.
Otherwise you will get a very unpleasant surprise. This is true, even if you are not superstitious, agnostic, or otherwise faith impaired.

ONE: Give people more than they expect and do it cheerfully.

TWO: Marry a man/woman you love to talk to. As you get older, their conversational skills will be as important as any other.

THREE: Don't believe all you hear, spend all you have or sleep all you want.

FOUR: When you say, "I love you," mean it.

FIVE: When you say, "I'm sorry," look the person in the eye.

SIX: Be engaged at least six months before you get married.

SEVEN: Believe in love at first sight.

EIGHT: Never laugh at anyone's dreams. People who don't have dreams don't have much.

NINE: Love deeply and passionately. You might get hurt but it's the only way to live life completely.

TEN: In disagreements, fight fairly. No name calling.

ELEVEN: Don't judge people by their relatives.

TWELVE: Talk slowly but think quickly.

THIRTEEN: When someone asks you a question you don't want to answer, smile and ask, "Why do you want
to know?"

FOURTEEN: Remember that great love and great achievements involve great risk.

FIFTEEN: Say "bless you" when you hear someone sneeze.

SIXTEEN: When you lose, don't lose the lesson.

SEVENTEEN: Remember the three Rs:
Respect for self; Respect for others; and Responsibility for all your actions.

EIGHTEEN: Don't let a little dispute injure a great friendship.

NINETEEN: When you realize you've made a mistake, take immediate steps to correct it.

TWENTY: Smile when picking up the phone. The caller will hear it in your voice.

TWENTY-ONE: Spend some time alone.

Now, here's the FUN part!
Send this to at least 5 people and your life will improve.

1-4 people: Your life will improve slightly.

5-9 people: Your life will improve to your liking.

9-14 : You will have at least 5 surprises in the next 3 weeks

15 + Your life will improve drastically and everything you ever dreamed of will begin to take shape.

A true friend is someone who reaches for your hand, and touches your heart... :wink:
 
Hopeless Indonesia's President Candidates!
07.14.04 (11:53 am)   [edit]

Soon, wi'll have our second stages president election, and there's only two candidates, from 5 candidates qualified for first stage.

None of those candidates interest me. Not at all. So, maybe i'll just sleep at home during election next September.

Hope my life better without disturbed by the election.

Does government do any good to you?

:roll:
 
Kejutan dari R. William Liddle
07.14.04 (8:20 am)   [edit]

Menanggapi tulisan R. William Liddle di Harian Kompas (14 juli 2004), tentang SBY yang seharusnya kecewa dan prihatin dengan menurunnya dukungan rakyat Indonesia terhadapnya, menimbulkan banyak pertanyaan bagi penulis. Dari semua hipotesa yang beliau kemukakan, hipotesa pertama tentang tidak setianya rakyat Indonesia pada pemimpin politiknya semakin menambah kebingungan penulis.

Benarkah rakyat Indonesia bukan tipe yang setia? Bukannya selama ini para pemimpin-lah yang tak pernah setia pada rakyatnya? Jika perlu pembuktian, pertimbangkan bagaimana sejarah selama ini menempatkan rakyat Indonesia sebagai obyek penderita. Sukarno, sudah berusaha memihak rakyatnya ketika PKI menjadi partai terbesar dan menguasai parlemen. Ketika sebagian rakyat lainnya tidak menginginkan PKI, Sukarno mengabaikannya, dan berakibat fatal pada kekuasannya. Soeharto, yang ‘mengemban’ amanat untuk menyingkirkan PKI, kemudian juga lupa pada siapa pengabdiannya harus dialamatkan. Bahkan lebih buruk lagi, Soeharto dengan ‘tangan dingin’ menyelesaikan perkara PKI tanpa belas kasihan dan rasa kemanusiaan. Dan seterusnya.

Hingga saat ini, rasanya belum satupun pemimpin besar yang patut mendapat kepercayaan rakyat sedemikian besarnya, sehingga perlu dibela dengan darah atau air mata. Meskipun demikian, bisa dilihat bahwa rakyat Indonesia tetap cinta bangsanya. Yang mereka inginkan adalah keberpihakan, cara pandang yang meletakkan kepentingan rakyat banyak sebagai dasar dari segala pengambilan kebijakan.

* * *

Tak ada satupun yang bisa membuktikan bagaimana keterlibatan kepentingan AS yang dituduhkan baru-baru ini dalam pelaksanaan Pemilu Presiden/Wakil Presiden 2004. Berbagai tanggapan sudah dikemukakan, tak kurang Ketua KPU sendiri menyatakan, meskipun bantuan terbesar datang dari negeri Paman Sam itu, tapi mereka menolak setiap ‘titipan’ yang tidak sesuai dengan peraturan atau perundang-undangan yang berlaku di tanah air. Demikian pula tuduhan yang kemudian berbelok kepada para LSM, yang nota bene bergantung dari bantuan donatur luar negeri untuk melangsungkan kegiatannya. Todung Mulya Lubis sendiri menyatakan, perdebatan mengenai konspirasi-konspirasi semacam ini sudah basi, dan tak perlu lagi panjang-panjang diperdebatkan.

Terlepas dari benar tidaknya tuduhan konspirasi semacam itu, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya banyak kejanggalan dalam wacana pertarungan calon presiden dalam pemilu kali ini. Beberapa kasus mencuat, dan menjadi wacana hingga sekarang. Mulai dari ketidakpercayaan publik terhadap penggunan teknologi IT dalam penghitungan suara di KPU, kasus tinta berkualitas rendah, kasus coblos tembus yang tidak diantisipasi jauh hari sebelum pelaksanaan pencoblosan, kasus Pesantren Zaytun, dan masih banyak kasus lain yang mungkin tidak terekspos di media massa.

Dari semua kasus yang terjadi, semuanya bukan berasal dari kesalahan rakyat, tetapi justru dari kesalahan pemimpin-pemimpinnya yang tidak jeli pada kondisi lapangan. Jika kemudian tuduhannya adalah ketidaksetiaan rakyat pada pemimpin, mungkin pemilu kemarin tidak akan menghasilkan apa-apa. Bayangkan saja bagaimana repotnya para petugas KPPS di lapangan yang harus menjadi ‘bemper’ ketidakjelian orang-orang KPU. Mereka tidak dibayar sebanyak orang-orang KPU, tetapi dedikasi mereka bisa dikatakan tidak lebih rendah dari apa yang ditunjukkan KPU selama ini.

Bukan berarti pembelaan yang membabi buta, jika penulis menuduh bahwa pernyataan yang ditulis Liddle itu tidak pada tempatnya. Kalau Liddle menyatakan bahwa SBY layaknya kecewa pada kesetiaan rakyat padanya, maka penulis akan menyatakan betapa kecewanya rakyat selama ini karena dipimpin oleh orang-orang yang mementingkan dirinya dan kelompoknya saja.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa lobby-lobby antar partai selama ini tak lebih dari sekedar politik dagang sapi. Percaturan politik tingkat tinggi sungguh sulit dimengerti oleh rakyat jelata. Bagaimana Gus Dur yang pernah mengeluarkan dekrit ‘basi’ tentang pembubaran Golkar, kini terang-terangan mendukung Wiranto, capres pilihan Golkar. Sungguh di luar pemikiran awam, ketika Amien Rais mendorong-dorong Gus Dur menjadi presiden, lalu tidak berbuat apa-apa ketika Gus Dur dijatuhkan begitu saja.

* * *

Melihat perolehan Golkar di masa pemilu 1999, menunjukkan betapa sebagian besar rakyat sangat setia pada pilihannya, terlepas dari rasional atau tidak pilihan itu. Apalagi dengan kemenangan Golkar di Pemilu legislatif 2004 yang lalu, penulis kira itulah bukti nyata kesetiaan rakyat pada pilihannya. Kemenangan sesaat PDIP ternyata tidak berbuah kepercayaan dan kesetiaan rakyat, karena mungkin PDIP tidak mampu membuktikan keberpihakannya pada rakyat. Meskipun tidak sepenuhnya berpaling, tetapi PDIP harus siap mengoreksi diri, apakah selama ini sudah menjawab kepercayaan yang diberikan rakyat kepadanya.

Kekalahan Wiranto pada perolehan suara sementara ini, menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya merepresentasikan aspirasi simpatisan Golkar. Partai Golkar tidak sama dengan Wiranto. Kesetiaan pada Golkar adalah kesetiaan pada masa lalu, dan Wiranto tampaknya tidak termasuk pada frame masa lalu itu. Di masa lalu Wiranto adalah TNI, dan meskipun TNI punya kedekatan dengan Golkar, menurut rakyat tampaknya Wiranto tidak berkaitan langsung dengan Golkar.

Fluktuasi dukungan terhadap SBY berdasarkan hasil survey, yang nota bene dilakukan sebagian besar di perkotaan, menunjukkan bahwa sebenarnya rakyat Indonesia membutuhkan tokoh baru yang berpihak pada mereka, memiliki cara pandang baru, dan yang agaknya penting adalah orang yang ‘senasib dan sepenanggungan’ dengan mereka. Fenomena ‘tertindas’ yang melekat pada tokoh-tokoh dukungan rakyat bisa menjelaskan hal ini. Meskipun, pada kasus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), hal ini tidak berlaku.

Ketika kemudian dukungan kepada SBY kecenderungannya semakin menurun dalam survey, menurut penulis ini adalah bentuk keraguan rakyat setelah melihat secara langsung penampilan SBY. Keraguan ini muncul dimungkinkan karena kepopuleran SBY tidak berbanding lurus dengan kenyataan di lapangan. Rakyat semakin pintar mencermati pilihannya, meskipun tidak sedikit yang semakin bingung. Perolehan suara SBY saat ini, yang diduga beberapa pengamat mencerminkan kepopulerannya, pada putaran kedua nanti akan semakin berat, karena Mega dengan posisinya sekarang sebagai presiden bisa lebih mudah mendongkrak kepopulerannya.

Yang agak mengejutkan adalah, kenapa Liddle masih 'terkejut' dengan kondisi menurunnya dukungan rakyat terhadap SBY? Selama SBY tidak menunjukkan keberpihakannya pada rakyat secara nyata, maka kepopulerannya selama ini akan memberinya harapan semu. Rakyat semakin cerdas, tidak bisa dibohongi lagi dengan iklan-iklan, atau janji-janji semata.

Bdg, juli 2004
 
Subject: Selamat! Gaji anggota KPI Rp 35 juta
07.12.04 (3:13 pm)   [edit]
[i]Date: Mon, 12 Jul 2004 08:49:31 -0700 (PDT)
From: Satrio Arismunandar [/i]

Selamat untuk para anggota KPI (komisi Penyiaran Indonesia), karena telah mengusulkan gaji Rp 35 juta per bulan untuk dirinya sendiri. Bagi para dosen/ akademisi yang kini jadi anggota KPI, jika usul gaji itu diterima, pasti merupakan lonjakan penghasilan yang besar karena sudah setengah dari gaji Dirut BUMN (Dirut Pertamina gajinya sekitar Rp 65 juta). Gaji KPI itu juga beberapa kali lipat gaji Producer di TV-TV swasta.

Alasan KPI, gaji sebesar itu diperlukan, agar anggota KPI tidak mudah terbujuk oleh stasiun-stasiun TV, yang mencoba mempengaruhinya.

Jika argumen KPI ini bisa diterima, saya mengusulkan agar gaji pokok anggota DPR-RI juga ditingkatkan, bukan cuma Rp 19,5 juta seperti sekarang, tapi Rp 50 juta, bahkan kalau perlu Rp 100 juta.

Alasannya: KPI itu dibentuk berdasarkan UU Penyiaran yang dibuat oleh DPR-RI, dan KPI hanya mengurusi penyiaran. Sedangkan anggota DPR-RI adalah yang menentukan UU untuk berbagai urusan (penerangan, media massa, perdagangan, hankam, pajak, minyak bumi dan gas, pertanian, industri, dll...dsb..) Artinya, godaan kepada anggota DPR-RI bukan cuma dari stasiun TV, tapi dari seluruh penjuru!!!

Agar anggota DPR-RI lebih "kuat iman", gaji mereka
harus dinaikkan lebih tinggi dari KPI, karena godaan
uang untuk mereka juga lebih besar lagi!!!

Selamat!!! Selamat!!!
[i]
sumber: ppiindia@yahoogroups.com[/i]

[b]Jadi kita hanya akan mengelus dada, dan berdoa mereka yang gajinya selangit itu tidak perlu lagi cari-cari komisi di luar gaji...

Semoga kontroversi gaji yang berlipat-lipat bak lemak itu memang bisa mengatasi korupsi yang bak kanker mematikan di tubuh negeri...

Semoga...

13 Juli 2004[/b]
 
r u happY with your live?
07.12.04 (1:15 pm)   [edit]
what really makes you happy?

people consider happy with his/her life coz of lot of things. But sometime they are not really happy. They just covering up their suffered, with smile...

Are you happy with everyhing you have done?
Or you just done it becoz you have to do that?

Ask ur self.

Don't ask me.

:wink:
 
Even McDonald's Try to Excuse
07.12.04 (9:25 am)   [edit]
[i]From The Guardian (UK), June 22, 2004
By Patrick Barrett[/i]

[i]McDonald's is hoping to counter the threat of a ban on advertising its burgers and fries to children, by launching a £1m campaign designed to persuade kids to eat fruit and take more exercise.

The fast food company's "Healthy lifestyle" campaign comes less than a month after the parliamentary health select committee attacked the food industry for the way it deliberately promotes unhealthy products to children through advertising.[/i]

[b]Hmmm...

Inilah hebatnya kapitalis. Dicaci maki lantaran terlalu mempromosikan gaya hidup tak sehat dengan 'junk food' nya, McDonald nggak kehabisan akal. Dibikinnya kampanye gaya baru, yang mempromosikan gaya hidup sehat. Kecut juga dia bakal kena cekal...

Kapan di Indo ada pencekalan ad-ad yang nggak masuk akal dan malah menyusahkan orang-orang yaa...[/b]
bdg, 12 juli 2004
 
Buy Nothing Day 2004 - Adbusters.org
07.12.04 (8:17 am)   [edit]


The concept couldn't be simpler. As a symbolic protest, on the busiest shopping day of the year, you refuse to participate in the consumer frenzy that has become everyday life. 24 hours, no purchases. Join us the day after American thanksgiving, Friday, Nov. 26, 2004.

klik here for more news: http://www.adbusters.org/meta...
 
Teknologi Tidak Tepat Guna
07.12.04 (6:23 am)   [edit]


Kompas hari ini, tanggal 12 Juli 2004, berkomentar soal teknologi IT KPU yang nggak dipercaya ama banyak orang. Bahkan menurut pengamatan ahli multimedia, Roy Suryo, banyak kejanggalannya.

Hmmm...

KPU emang keras kepala luar biasa. Belum pengacaranya yang minta ampun arogan itu. Yang beginian disebut independen, dan profesional?

Masak sih nama-nama besar di KPU bisa ketipu ama teknologi yang anak SMA aja udah mulai paham...

Betul juga komentar di milis koran-sastra, yang bilang, siapa juga yang bisa menggugat 'keperkasaan KPU' ?

siapa yah? terlalu powerful kayaknya... siapa yang bisa ngontrol KPU? Siapa yang bisa menjamin kalo KPU bersih dari berbagai konspirasi? Mulai dari Tinta yang kualitasnya kedodoran, ampe teknologi berharga milyaran...

hmmm...

bdg, 12 juli 2004
 
Amien Rais-Gus Dur Tolak Eks Militer
07.12.04 (4:27 am)   [edit]
Date: Mon, 12 Jul 2004 00:54:08 +0200
From: "Chalik Hamid"
Subject: Amien Rais-Gus Dur Tolak Eks Militer

Sinar Indonesia Baru 11 Juni 2004

Jakarta (SIB)

Pengamat militer dan intelijen Djuanda memprediksi, Amien Rais-Siswono, Hamzah Haz-Agum Gumelar (PPP), Gus Dur (PKB), Akbar Tandjung (Golkar) akan memberikan dukungan kepada pasangan Mega-Hasyim menjadi presiden pada pilpres 20 September nanti.

"Saya kira Amien-Sis tetap konsisten menolak presiden mantan militer. Sedangkan Akbar (Golkar) selama ini sudah sangat dekat dengan kalangan PDIP, terutama Taufik Kiemas. Sementara Gus Dur, walau bagaimanapun ia lebih mengenal Megawati ketimbang SBY. Keduanya bahkan pernah menjadi saudara kandung. Jadi, wajar kalau mereka berkoalisi dengan Megawati," kata Djuanda di Jakarta, Kamis (8/7).

Faisal Baasir tidak sependapat dengan Djuanda yang menyatakan Amien, Gus Dur, Akbar akan berkoalisi dengan Megawati. Menurutnya, mereka akan memberikan dukungan kepada SBY. Alasan PAN dan PKB karena menolak pemimpin wanita.

Sementara suara PKB yang tadinya berkoalisi dengan Golkar untuk menggolkan Wiranto, pada putaran kedua nanti akan lari mendukung SBY. Ini disebabkan karena, PKB sendiri terutama Ulama yang kemarin memberikan fatwa haram pemimpin wanita, akan sulit menarik kembali fatwa itu.

Menurut Faisal Amien Rais kecil kemungkinan memberikan dukungan untuk Megawati, dan PPP sendiri belum tentu seperti yang diperkirakan orang bakal memberikan dukungan untuk Megawati. Namun Djuanda maupun Faisal Baasir sama berpendapat, untuk melakukan aliansi dalam pemilihan presiden putaran kedua mendatang, tak terlepas dari berbagai kepentingan misalnya duduk dalam pemerintahan.

.....

(Tbt/Ant/detikcom/j)

[b]Jadi kemana saja selama ini ya mereka... Mana sih platform yang katanya sama itu... Lha kalo platformya sama, ya bikin satu partai saja, ya tho...[/b]
 
CATATAN SEORANG KLAYABAN: GURU dan MURID
07.10.04 (10:56 pm)   [edit]
Budhisatwati KUSNI wrote:


Pada tanggal 09 Juli 2004, Harian Kompas, Jakarta, menurunkan sebuah berita berjudul "Pihak Asing Campuri Pemilihan Presiden" dalam mana dikemekukakan pendapat Kwik Kian Gie tentang suatu sikap mental yang tercermin melalui hubungan antara guru dan murid. Secara khusus dalam hal ini hubungan antara mantan para mahasiswa William Liddle dengan sang profesor yaitu William Liddle setelah mereka usai belajar dan pulang ke Indonesia.

"Fungsionaris Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) ini menyayangkan sikap pengamat Indonesia yang seolah menempatkan diri menjadi asisten bagi pengamat asing. Padahal, wawasan maupun pengetahuan mereka tentang Indonesia lebih utuh daripada pengamat asing. "Saya sendiri belajar di luar negeri, tetapi setelah selesai dan berpengalaman begitu lama, tidak bisa lagi menjadi murid mereka. William Liddle tidak tahu apa-apa tentang lapangan di Indonesia, sedangkan murid- muridnya itu sudah di sini dan lulusnya sudah lama, serta tahu betul lapangan. Tetapi, kenapa secara mental mendudukkan diri sebagai asistennya? Kalau berkomunikasi dengan profesor, saya tidak begitu," kata Kwik lagi [Lihat: Harian Kompas, Jakarta, 09 Juli 2004].

Sehubungan dengan sikap mental ini juga maka ketika berbicara tentang pembangunan pendidikan di Indonesia, Kwik Kian Gie juga menjelaskan bahwa:

"Kebetulan pada akhir sidang kabinet disinggung. Ibu Presiden sendiri memberikan sinyal begini, jangan hanya angka-angka terus, bagaimanapun kalau bicara pembangunan pendidikan jangan hanya menambah ilmu, tetapi watak, karakter bangsa juga harus diperhitungkan dalam menyusun kurikulum," kata Kwik menanggapi pertanyaan tentang pemilihan presiden "[Ibid].

Perihal yang dikemukakan oleh Kwik ini, yaitu hubungan guru dan murid, peranan universitas dan pemberian beasiswa atau pun bantuan sebenarnya merupakan masalah yang cukup luas, menyangkut berbagai segi, dan tentu saja mempunyai hubungan dengan unsur politik. Ambil contoh grup sarjana yang di Indonesia disebut sebagai "Berkeley Mafia" dan yang berperanan penting selama Orde Baru [Orba] terutama pada periode-periode awal, atau "Chicago Boys" di Chile pada periode kekuasaan Jenderal Pinochet yang dengan kudeta berdarah telah menggulingkan kekuasaan Presiden terpilih Salvador Allende, melalui "Operasi Jakarta"-nya, belum lagi jika kita mengambil kehadiran profesor-profesor asing di berbagai universitas penting di Indonesia pada zaman Presiden Soekarno, entah sebagai peneliti ataupun pengajar, barangkali kita bisa melihat dibalik semua itu ada unsur politis dan disandang sekaligus sebagai misi. Jika kita membaca dokumen-dokumen dan tulisan-tulisan para pakar tentang masalah Tragedi
Nasional September 1965, terutama "persiapan-persiapan" mendahuluinya, kalau kita mau percaya, kita akan bisa mendapatkan banyak bahan acuan yang menarik. Tapi dalam "Catatan" ini, saya tidak ingin memasuki masalah tersebut lebih lanjut. Melalui alinea ini, saya hanya ingin mencanangkan bahwa apa yang diungkapkan oleh Kwik bukanlah masalah baru dalam sejarah Indonesia dan dunia. Tapi seperti kata Arief Budiman ketika kami membicarakan masalah ornop [organisasi non pemerintah] dan dana luar, persoalannya terletak pada "siapa menggunakan siapa".

Jika memusatkan masalah pada soal sikap mental dalam hubungan guru dan murid, di sini pun bermacam-macam pertanyaan bisa diajukan. Misalnya mengapa murid khoq bisa berulah selamanya seperti murid dan jika menggunakan istilah Kwik sebagai "asisten". Mengapa guru selalu dan selamanya dipandang sebagai "dewa". Menghormati dan berterimakasih kepada sang guru tidak semestinya menghilangkan kedirian mantan murid. Hanya saja saya menganggap bahwa sikap mental biasanya mempunyai dasar sosial, politik dan ekonomi serta budaya tertentu yang dominan pada suatu ketika. Ia bukan muncul begitu saja. Untuk itu diperlukan pengetahuan persis dan rinci tentang orang-perorang yang menganut sikap mental demikian.Patut juga dipertanyakan, apakah William Liddle memang ingin para mantan muridnya [untuk lebih keren, para mantan mahasiswanya] memperlakukan diri sang profesor selamanya sebagai guru dan "dewa" pegangan? Kalau Kwik, menyebut William Liddle turut campurtangan dalam pemilu, sekarang, semestinya
Liddle memberikan keterangan terbuka, benarkah ia punya maksud politik tertentu dengannya sebagai mantan profesor para mahasiwanya dan sebagai peneliti serta indonesianis? Tentu saja harapah ini tidak akan kita dapatkan dan tidak akan kita dengar dari Liddle.Kalau pun demikian, saya kira, kita tidak bisa menyalahkan Liddle. Masalahnya, barangkali terletak pada bagaimana kita bisa menangkal campurtangan? Mengapa kita sampai bisa dicampurtangani? Tidakkah keadaan demikian mempertontonkan diri kita yang sangat tergantung, lemah dan tidak berdaya sehingga hanya ribut sendiri? Sebagai bandingan, mengapa sekian banyak usaha intervensi dari luar terhadap Republik Rakyat Tiongkok [RRT],tapi RRT tetap tidak meributkannya? Kuba yang dikepung Amerika Serikat, dihujani dengan macam-macam propaganda anti Kuba, tapi sampai sekarang Kubanya Fidel Castro masih saja eksis, padahal Amerika Serikat mempunyai basis militer di Guantanamo di ujung timur pulau itu? Berapa kilometer gerangan jarak Habana dan
Guantanamo? Kalau karena pendapat-pendapat dan komentarnya terhadap masalah Indonesia, lalu Liddle dikatakan sebagai telah melakukan campurtangan, barangkali pendapat dan sikap begini terlalu jauh. Saya merasa komentar seorang Liddle sebagai Indonesianis yang menjadikan Indonesia dan permasalahannya sebagai obyek studi dan pengamatannya, sangatlah wajar. Barangkali dari pendapat Liddle, Indonesia bahkan bisa memungut manfaat. Mengkritik dan apalagi jika sampai mencerca Liddle karena atau semata oleh pendapat-pendapatnya, saya kira sudah berlawanan dengan epistemologi ilmu-pengetahuan yang diperlihatkan melalui sikap menolak kritik. Sekali lagi, apakah ini bukan ujud dari kelemahan? Pendapat, mengapa tidak dijawab dengan pendapat? Argumen mengapa tidak dijawab dengan argumen dan data? Kecuali kalau ada bukti bahwa Liddle melakukan komplotan politik secara terorganisasi di luar bidang social-sciences. Tepat tidaknya pendapat dan argumen Liddle, layak dijawab dengan argumen dan buktikan
ketidaktepatannya. Bukan dihadapi dengan main pasang topi yang sangat tidak nalar dan kebingungan serta ketentuan adminsitratif seperti yang pernah dialami oleh Ben Anderson. Saya kira sikap adu argumen dan data, dan bukan main pasang topi dan larang atau main cekal dan usir, adalah sikap yang nalar.

Kalau para mantan murid Liddle masih menganggap Liddle sebagai "dewa" mereka, ini adalah urusan mereka, yang sekaligus memperlihatkan kadar mereka sebagai manusia serta taraf kesarjanaan mereka. Saya tidak terlalu hirau dan sama sekali tidak risau. Karena di Indonesia bukan hanya ada mantan murid-muridnya Liddle, walaupun barangkali sekarang ini mantan murid-muridnya Liddle mempunyai posisi dan kekuatan tertentu karena mempunyai ini dan itu, terutama dari segi finansil, misalnya. Sikap ini saya ambil berdasarkan keyakinan bahwa "seseorang bisa menipu sekali dua kali, tetapi tidak akan bisa menipu selama-lamanya". Apalagi saya percaya benar pada kejujuran dan kekuatan rakyat negeri ini, bahwa di negeri ini masih ada orang-orang jujur. Masih ada manusia. Mengapa takut pada Liddle dan para mantan mahasiswanya yang "mendewakan" dia [kalau benar!], sedangkan Bush dengan ribuan serdadunya saja sudah kalangkabut di Irak, Amerika Serikat sudah dikalahkan di Vietnam. Apakah pada dasarnya
rakyat Indonesia itu pengecut dan gampang digertak? Saya masih percaya, dan sejarah masih mencatat bahwa rakyat negeri ini bukanlah rakyat pengecut. Tidakkah rakyat ini juga dahulu yang pernah mencoret tembok-tembok kota dengan slogan: "Merdeka atau Mati" ketika mengusir kolonialisme Belanda, tak ada senapang mereka menggunakan bambu runcing menghajar lawan. Kita adalah turunan rakyat demikian, rakyat yang punya harga diri dan tahu arti martabat kemanusiaan. Yang pengecut lebih banyak orang-orang dari lapisan elitenya. Bukan rakyat.

Perihal para Indonesianis, memang bermacam-macam jenisnya. Ada yang sekaligus membawa misi politik, ada yang murni ilmuwan tanpa takut risiko,ada yang menjadi ilmuwan sekaligus berhitung akan periuk dan belanga nasinya sehingga sangat oportunis seperti "bendera di atas bukit", ujar orang Minang. Inipun urusan para Indonesianis itu, bukan urusan Indonesia.

Kesimpulannya? Mengapa mesti takut kepada Liddle dan para pengikutnya? Sedangkan bagi yang mau membudak, yang mau jadi embel-embel seumur hidup, juga silahkan! Mereka hanya segelintir sangat kecil dan tidak lebih dari busa di sungai yang tak akan sampai ke muara. Mereka pun tak lain dari "bendera di atas bukit" itu. Yang sarjana pun bukan hanya mereka, kemudian yang lebih bersifat kunci lagi: Kembalikan Indonesia kepada rakyat Indonesia! Cepat atau lambat, rakyat akan merebut kembali haknya.Rakyat dan bangsa negeri ini bukan rakyat dan bangsa cacing. Bukan rakyat dan bangsa tempe, ujar Bung Karno.

Masalah sikap mental selain erat tautannya dengan pilihan politik dan masalah pendidikan, ia pun menjadi urusan para sastrawan-seniman.Sebaiknya setelah berguru dengan para profesor di dalam dan di luarnegeri, mengapa tidak kemudian kita berguru kepada orang kampung, menyatukan diri dengan mereka?! Jalan inikah yang ditempuh oleh para cendekiawan dan sarjana kita?


Paris, Juli 2004.
----------------
JJ. Kusni

[i]sumber: koran-sastra@yahoogroups.com[/i]
 
KEPADA TUAN JIMMY CARTER DAN WILLIAM LIDDLE
07.10.04 (10:53 pm)   [edit]
Date: Fri, 9 Jul 2004 19:35:41 -0700 (PDT)
From: Tangkisan Letug


Tuan-tuan yang terhormat,
perkenankanlah hamba, tak berguna ini menyampaikan ungkapan rasa hati.

Pertama-tama, terimalah ucapan terimakasih hamba ini,
atas peran tuang-tuan dalam membantu urusan pemilihan pemimpin kami. Kehadiran tuan-tuan tampak sungguh menambah warna hajatan tahun ini. Sementara banyak para pemimpin kami tidak bisa lagi mengerti tentang demokrasi, tuan-tuan datang membawa pencerahan. Itulah yang memang menjadi kebutuhan kami. Dicerahkan dengan kehadiran tuan-tuan, untuk menyalakan kesadaran bahwa demokrasi bagi kami memang masih asing.

Pada senyatanya, demokrasi di negeri ini sering masih
dipahami sebagai rebutan kursi. Dan untuk itu, yang selalu terjadi, rakyat-rakyat miskin hanya menjadi
obyek provokasi atau pijakan meraih kursi. Tuan-tuanlah menunjukkan kepada kami, bahwa demokrasi kami memang masih butuh guru-guru atau masih patut diawasi, juga oleh tuan-tuan yang kami hormati.

Memang sudah menjadi wataknya, tugas wakil-wakil kami tak pernah sungguh melaksanakan pengawasan. Oleh karena itu, demokrasi di negeri ini masih selalu butuh tuan-tuan awasi. Untuk semua kebaikan budi tuan-tuan, hamba tak berguna ini menghaturkan seribu terimakasih.

Apakah yang sepantasnya bisa kami berikan kembali
untuk membalas budi baik tuan-tuan yang kami hormati?

Tuan-tuan yang baik budi, sungguh berbahagialah
seandainya tuan-tuan sudi pula terus mendampingi kami, bahkan ikut pula mengawasi dengan lebih jeli lagi, bagaimana uang-uang negara kami telah dihamburkan
menjadi rebutan para petinggi negeri. Sebab, apalah artinya demokrasi bila korupsi dibiarkan merajalela begini. Itulah barangkali yang jauh lebih membutuhkan pengawasan tuan-tuan. Jangan-jangan, bantuan dollar dari negeri tuan-tuan, juga disambut dengan pesta-pora
korupsi di negeri ini.

Sahaya, hamba seorang diri ini, tahu apalah tuan-tuan. Sahaya, warga negeri ini, hanya mampu melihat apa yang tampak di depan mata, apa yang terdengar di depan telinga. Sorak-sorai demokrasi negeri ini memang
terdengar meriahnya. Milyaran rupiah hanya sekedar habis di kerumunan massa mendengar pidato para kandidat pemimpinnya. Setelah itu, orang kembali kepada kemiskinannnya.

Di tengah kepolosan banyak warga negeri ini, juga ketulusan menyambut tuan-tuan sebagai tamu-tamu istimewa, bermilyar-milyar uang rupiah ludes entah untuk apa saja. Padahal, ribuan pengungsi negeri ini banyak menangis di tenda-tenda. Padahal, para petani gula masih tak mampu meningkatkan pendapatannya. Padahal, rakyat biasa di luar Jawa masih banyak membutuhkan beaya pendidikan untuk anak-anaknya.

Bermilyar-milyar rupiah dan berjuta-juta dollar yang mengalir sudah, seakan hanyalah awan lewat di angkasa tanpa mendatangkan hujan berkah bagi mereka. Tetapi hingar-bingar pemilu demi demokrasi yang tuan-tuan ajarkan kepada kami, seakan telah melupakan nasib mereka. Terimakasih untuk kehadiran tuan-tuan, seakan semakin menjelaskan kontras kenyataan itu. Kehadiran tuan-tuan di negeri ini, telah memberikan kejelasan apa artinya demokrasi yang tuan ajarkan bagi kami.

Tuan Jimmy Carter dan William Liddle yang baik hati,
peran tuan-tuan dalam mencoba mendorong demokrasi di negeri ini tampak istimewa, khususnya di hari-hari
pencoblosan yang masih akan berlangsung ini. Bolehkah sahaya hamba yang tak berguna ini mengusulkan, agar tuan-tuan diangkat menjadi warga kehormatan negeri ini? Bahkan tidak hanya berhenti di situ, sahaya, warga biasa negeri ini, mengusulkan untuk mengangkat tuan-tuan menjadi Bapak-bapak Demokrasi atau Bapak-bapak Pemilu 2004 bagi negeri ini. Sebagaimana dulu Bapak kita Soeharto diangkat sebagai Bapak Pembangunan karena beliau telah memberikan sumbangan besarnya dalam membangun negeri ini, hingga kita sampai menikmati keadaan sekarang ini, begitu pulalah tampaknya tuan-tuan pantas untuk menjadi Bapak-Bapak Pemilu 2004 untuk Indonesia ini. Itulah sekedar usulan hamba tak berguna ini, warga negara biasa yang tidak tahu tentang demokrasi yang sebenarnya.

Tuan-tuan yang terhormat,
itulah ungkapan perasaan sahaya, diri tak berharga dan tak tahu adat, yang telah berani menuliskan surat ke publik ini. Maafkanlah bila ada kata-kata dan ungkapan di sini yang tidak berkenan. Berlonggarlah hati untuk menerima surat ini.

Sekali lagi, tuan-tuan yang sahaya hormati, terimakasih atas jerih payah dan upaya membandu negeri kami.

Salam dari sahaya tak berguna ini,

10 Juli 2004

Tangkisan Letug

[i]sumber: ppiindia@yahoogroups.com[/i]
 
Amerika Kangkangi Indonesia : Bakar Kantor LSI dan Freedom Institute!
07.10.04 (10:45 pm)   [edit]
Kondisi Terkini dan Kondisi Seharusnya

Membaca situasi saat ini yang terjadi sangat jelas terpampang di depan mata kita kalau sebenarnya kekuatan asing sudah secara riil masuk mengintervensi Indonesia. Alangkah jelasnya hal itu dipertontonkan kepada kita. Tidak perlu mencari informasi dari sumber intelijen-pun hal itu sudah dapat kita ketahui.

Satu bukti yang paling jelas adalah begitu konsistennya Metro TV untuk selalu menggaet LSI sebagai "source" polling bagi kemenangan SBY. Sementara SBY sendiri merupakan kaki tangan Amerika melalui Partai Demokrat AS. Yang bekerja dibelakang SBY adalah para kaum Jezuit (ordo fundamentalis katolik) , Evangalis (ordo fundamentalis protestan) dan Zionis (ordo fundamentalis jahudi). Mereka semua terlibat di Indonesia kita. Partai Demokrat di Indonesia sendiri pun merupakan duplikat dari Partai Demokrat Amerika. Di tingkat operasional bekerja CIA untuk membantu suksesnya projek mereka mengangkangi Indonesia. Intinya Partai Demokrat Indonesia, NDI, LP3ES, LSI, Metro TV (Harry Tanoesudibyo, Bhakti Investama), bekerja dalam plot Partai Demokrat AS, dan CIA.

Begitu jelas terlihat Metro TV sejak awal telah konsisten menggaet LSI dan memenangkan SBY. Kalau kita sedikit kritis, mengapa Metro hanya melibatkan LSI dan LP3ES saja dalam penentuan polling, bagaimana bisa cuma LSI dan LP3ES? Apa tidak ada lembaga survei yang handal di Indonesia selain LSI dan LP3ES? Bukankah umur LSI di Indonesia belum juga lama? Bukankah umur Partai Demokrat di Indonesia juga belum lama? Mengapa lembaga2 baru ini bisa tiba-tiba menjadi sangat dominan dalam membentuk opini di masyarakat Indonesia? Itulah contoh kongkrit hasil kerja operasi intelijen. Begitu tenang,senyap, rapi, terorganisir dan tepat. Mereka disokong oleh kecerdasan orang (Rizal Malarangeng), teknologi (Metro TV dan SCTV), science (statistics), dan uang yang berlimpah-limpah.

Satu bukti lagi adalah, letak kantor LSI dan LP3ES selama berlangsungnya Pemilu. Tahukah anda kalau kantor LSI, LP3ES maupun NDI saat ini berdempetan dengan Kantor Pusat Tabulasi Suara KPU di Gedung Borobudur Hotel? Mereka "mengepung" pusat tabulasi suara nasional pemilu Indonesia. AS mengepung Indonesia yang secara fisik dan gamblang ini tidakkah menyadarkan kita semua bahwa betapa kasarnya mereka semua telah bermain dan kita hanya bisa mengikut-ikut dalam pola mereka.

Saat ini memang telah berlangsung beberapa suara kritik terhadap pelaksanaan pemilu ini. Beberapa diantaranya adalah menyatakan :

1. Penolakan terhadap hasil pemilu 5 juli 2004 oleh KOMPI di Bandung

2. Permintaan penghitungan ulang (karena khawatir terjadi kecurangan penghitungan suara) oleh GPI.

3. Aksi pembakaran beberapa kotak suara yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa di Jakarta

4. Permintaan PENGUSIRAN terhadap para Pemantau Asing dari Indonesia oleh FKPPI.

5. dll

Namun hal itu tidak akan membawa banyak hasil karena mereka akan tetap berjalan mulus. Mereka akan tetap berjalan terus sampai penghitungan suara hasil pemilu selesai dan segala permasalahan yang ada akan ditanggulanngi nantinya oleh Mahkamah Konstitusi. Yang pasti jika KPU sudah membacakan pengumuman resmi Pemilu-5 Juli, maka Mahkamah konstitusi hanya akan menyelesaikan masalah yang "cilik-cilik" saja. Tetap saja SBY tidak akan terganggu gugat oleh yang "resmi" ini. Dalam menanggulangi "riak-riak" masalah yang mengkritik dan menolak hasil pemilu 5 Juli 2004 ini berlangsung, mereka akan tetap konsisten membawa permasalahan-permasalahan yang muncul ke dalam wilayah diskusi dan perdebatan. Akan semakin ramai perdebatan dan diskusi di TV-TV namun penghitungan suara akan jalan terus hingga pengumuman resmi dilakukan. Dan permasalahan-permasalahan yang ada itu tidak akan mungkin terselesaikan sebelum keputusan resmi KPU. Problem-problem itu paling-paling hanya akan selesai dalam wilayah
diskusi daan perdebatan saja, atau diselesaikan nantinya oleh Mahkamah Konstitusi atau malah bisa menguap sama sekali. Tidak akan ada aksi yang kongkrit untuk menghentikan manipulasi yang terjadi saat ini.

Kalau SBY jadi Presiden maka yang Indonesia akan benar-benar dikuasai oleh AS. BUMN kita akan semakin banyak dijual kepada asing, sumber daya alam kita pun akan semakin dikelola secara liberal dan kapitalistik, perguruan tinggi kita akan semakin banyak yang di-swastanisasi melalui BHMN. Selain itu nilai-nilai buatan Jahudi bagi non Jahudi yang selama ini merambah nilai-nilai di Amerika sana seperti sex bebas, gay, lesbian, hedonisme dll akan semakin merasuki Indonesia. Akan terjadi Amerikanisasi Indonesia. Itulah yang akan dibawa melalui SBY.

Kalau hal ini diteruskan maka kita hanya berpindah penjajah (artinya kita tetap terjajah), dari penjajah lama (RRC-Jepang yang bekerjasama dengan Cina Perantauan di Indonesia) kepada penjajah baru (AS - Jahudi). Begitulah hakikatnya pemilu kita ini.

Yang perlu dilakukan saat ini adalah upaya penghentian terhadap upaya pengangkangan ini.

Upaya itu harus nyata, tidak sekedar wilayah cuap-cuap. Harus merupakan wilayah action praksis.

Beberapa tindakan praksis yang perlu dilakukan adalah :

1. Hancurkan compilation data yang ada di Pusat Tabulasi Suara Pemilu Nasional KPU di Hotel Borobudur. Kepada Para Hacker patriot bangsa diminta pertolongannya.

2. Serang secara fisik kantor-kantor agen "demokrasi" Amerika di Indonesia antara lain : LSI, LP3ES, Metro

TV, Freedom Institute, SCTV, NDI, Carter Centre.

3. Teror atau bahkan kalau perlu culik orang-orang yang bekerja di dalam kantor agen "demokrasi" Amerika tersebut. Cari pentolan-pentolannya. Sekap dan tawan mereka.

Setelah hal itu dilakukan, maka kita bersama menuntut dilakukannnya penghitungan ulang secara benar, atau kalau perlu kita meminta dilakukan Pemilu Ulang. Hal itu jauh lebih baik untuk kita sebagai bangsa

Siapapun yang berani melakukan itu, maka dialah sebenarnya patriot bangsa ini dan dialah pemain politik ulung sesungguhnya, bukan hanya pintar omong di TV saja kerja orang politik itu. Mari kita lakukan hal itu bersama-sama!

Pemuda dan Mahasiswa harus mengambil sikap mandiri. Tidak usah perduli kalau para senior masih sibuk dengan kekuasaan mereka di dalam perebutan kekuasaan kepartaian. Kita buat jalan kita sendiri.

Bandung, 10 juli 2004
[i]sumber: ppiindia@yahoogroups.com[/i]
 
Menang Saja Tidak Cukup
07.10.04 (10:40 pm)   [edit]
Yunani menyerang balik dari sayap kanan, atau sayap kiri pertahanan Perancis. Seorang pemain bersiap melepaskan umpan silang ke tengah kotak penalti, sementara pemain belakang Perancis bukannya menutup ruang tembaknya, melainkan malah mundur. Dan umpan silang dilepaskan, dengan cepat seorang pemain Yunani yang lain menyambar bola dengan sundulannya. Kiper Perancis terhenyak. Pemain belakang Perancis semuanya melongo. Lepas sudah gelar juara Eropa yang mereka raih tahun 2000 lalu seiring dengan bersarangnya si kulit bundar ke sudut kiri atas gawang Perancis.

Peristiwa tragis menyelimuti pertarungan putaran final Piala Eropa 2004. Satu persatu tim-tim besar bertumbangan. Pertama Spanyol, Inggris, Italia, Jerman, Perancis, Belanda. Tim Jerman bahkan tak pernah menang di setiap pertandingannya. Nama besar ternyata tidak bisa menjadi taruhan, karena kenyataan di lapangan berbicara lain.

Menjelang final Kejuaraan Piala Eropa 2004, kita juga menghadapi putaran final yang tak kalah seru. Pemilihan langsung Presiden dan Wakil Presiden, yang baru pertama kali dilaksanakan dalam sejarah Bangsa Indonesia, memasuki tahap kampanye dan sebentar lagi tahap pencoblosan. Sama seperti kejuaraan Piala Eropa, sebelum putaran final yang meloloskan 5 calon Presiden/ Wakil Presiden, dilakukan juga babak kualifikasi. Bedanya pemilu kita menyaring 5 dari 6 peserta, sementara Piala Eropa menyaring 50 negara se daratan Eropa dan hanya meloloskan 16 tim untuk bertarung di putaran final.

Sudah pasti mereka yang lolos ke putaran final adalah mereka yang berkualitas, dari sisi skill, pengetahuan, dan kemampuan. Entah bagaimana caranya, yang pasti mereka sudah ada di putaran final. Itu sudah menjadi bukti yang cukup untuk melegitimasi keberadaan mereka. Suka tidak suka, penonton disuguhi tontonan 16 tim di putaran final Piala Eropa, dan lima pasangan di putaran final pemilu presiden/wakil presiden.

Meskipun ada lima dari hanya enam calon yang masuk ke putaran final pemilu presiden, bukan berarti babak kualifikasi pemilu presidennya kurang berkualitas. Kalau 50 negara se daratan Eropa bertarung memperebutkan 16 ‘kursi’ di putaran final, sebelum pemilu presiden sudah dilakukan babak kualifikasi tahap I, yaitu pemilu legislatif. Pemilu legislatif kita menghasilkan tujuh partai yang ‘layak’ tampil, dari 24 partai yang ikut babak ‘kualifikasi.’

Tujuh partai inilah yang kemudian mencalonkan kadernya menjadi calon presiden, yang berarti seharusnya ada tujuh calon presiden. Ternyata ada satu partai yang tidak ikut dalam pertarungan pemilu presiden, sehingga hanya ada enam calon presiden di babak kualifikasi, dan kemudian 1 calon tereliminasi, sehingga calon presiden di putaran final menyisakan lima calon.

* * *

Jika Perancis sebagai juara bertahan bisa tersingkir di perempat final oleh Yunani, kita tidak bisa semena-mena menuduh Yunani atau Perancis bermain politik uang. Yang jelas terlihat di layar televisi kita, Yunani bermain dengan penuh determinasi, tak kenal lelah, mengejar semua pemain Perancis yang memegang bola. Tak diberinya kesempatan kepada Perancis untuk mengembangkan permainan, apalagi berinisiatif menyerang. Apapun yang dilakukan Perancis, Yunani berhasil meredamnya. Selain menumpuk 8 orang di kotak penalti, Yunani juga menerapkan strategi sapu bersih, dan tackling keras, sehingga Yunani kurang disenangi oleh penonton karena negative football yang mereka peragakan.

Tapi yang jelas pendukung Yunani berpesta pora. Melenggang ke semi final, dan lalu terus ke final setelah mengandaskan Ceko, kini Yunani siap di Grand Final, berhadapan dengan Portugal, sang tuan rumah. Sulit memprediksikan mana yang bakalan menang. Banyak kepentingan yang akan berperan, selain prestise karena bisa memenangkan gelar juara sepakbola di daratan Eropa. Pasar taruhan yang habis-habisan mempertaruhkan uang mereka, adalah juga faktor besar yang tidak bisa disepelekan. Seorang pemain Kolombia pada Piala Dunia 1998 lalu menjadi korban, ditembak mati oleh orang yang mungkin saja adalah petaruh kesal karena kalah taruhan.

Negative football, bertemu samba Eropa, paling tidak itulah gambaran partai final Piala Eropa 2004 nanti. Anda boleh mengecam Yunani karena negative football-nya menumbangkan kesebelasan kesayangan anda. Tapi itulah kenyataannya. Bola itu bundar, lapangan itu masih hijau, dan pergerakan bola dari kaki-kaki pemain menyusuri lapangan hijau sangat tergantung pada keputusan sang pelatih, strategi macam mana yang akan mereka pakai.

Kalau melihat strategi para calon presiden kita dalam berusaha memenangi pertarungan dalam pemilu presiden kali ini, entah mana yang menggunakan strategi bertahan, menyerang, atau possession football. Dari ajang debat calon presiden yang baru-baru ini digelar, semua calon bermain dengan sangat hati-hati, tidak pernah fokus kajiannya, dan cenderung sangat normatif. Apa yang disampaikan sepertinya semua orang juga sudah tahu. Menarik investor asing dengan cara meningkatkan ketertiban dan keamanan negara, rasanya anak SMA pun sudah mulai fasih melafalkannya.
Yang tampak jelas adalah semuanya berambisi terpilih jadi RI-satu. Menang dalam pemilihan adalah langkah strategis yang paling utama, jaminan keberhasilan pelaksanaan program kerja adalah nomor berikutnya.

Tentu tidak salah berpandangan demikian, tapi rakyat bukanlah penonton sepak bola atau petaruh dalam pasar taruhan. Rakyat-lah yang akan memilih mereka, dan rakyat berhak mendapatkan apa yang mereka harapkan. Kalau salah satu dari mereka menang, rakyat tidak hanya akan ikut senang, larut dalam pesta pora semalam, lalu sudah. Ada masa lima tahun yang harus dipertanggungjawabkan para calon presiden yang bakal terpilih. Dan nasib bangsa ini ada di tangan mereka.

Beberapa nama besar tercantum sebagai calon pasangan presiden/wakil presiden. Ada mantan jenderal berbintang empat, ada mantan menteri, ada petani, ada kyai, ada pula pengusaha, dan tentu saja sang ‘juara bertahan.’ Sanggupkah mereka membuktikan bahwa nama besar mereka bukan tong kosong yang nyaring bunyinya?

Menang pemilu saja tidaklah cukup. Perlu pembuktian lebih lanjut, agar bangsa ini terbebaskan dari berbagai permasalahan yang semakin kompleks. Jika tidak mampu menjadi pemimpin yang bisa menyelesaikan permasalahan, maka rakyat siap mencabut kembali kepercayaannya. Rakyat tidak akan membiarkan presiden pilihannya cuma jadi boneka berbagai kepentingan. Sudah sewajarnya rakyat menuntut komitmen presiden mendatang agar bersikap lebih moderat, mau mendengarkan suara dari bawah, bukan dari sekelilingnya saja.

Begitu pula dengan partai final Piala Eropa 2004 nanti. Penonton tidak hanya berharap ada tim yang bakal menang, tapi penonton berharap sesuatu yang lebih. Paling tidak tontonan sepakbola yang menarik, memperagakan teknik kelas dunia, menghibur, dan menggairahkan. Toh penonton tidak bisa berbuat apa-apa kalaupun kedua tim tidak benar-benar bermain sepak bola, melainkan hanya adu otot menuju kampiun sepak bola se daratan eropa.

Bandung, 4 Juli 2004
 
kenapa harus SBY...
07.06.04 (9:29 pm)   [edit]
wuih... capek-capek mikir soal presiden baru, yang bakalan naik kayaknya nggak seperti yang gua harapkan.

Kalo piala eropa, yang masuk final ini nanti bakalan yunani sama latvia. Halal sih... tapi apa menariknya?
 
Subscribe with Bloglines

1933 Nazi Election Poster

what i think